IDX Stock Screener

Screen Jakarta Stock Exchange (IDX) stocks by valuation, profitability, growth and dividend metrics. Fundamentals come from audited annual reports (2022–2025); prices are the latest close. Data loads from our live API — nothing you change leaves the page.

Ticker Price Mkt cap (Rp T) P/E ROE P/BV D/E Growth Yield Sector Score

The score combines profitability (ROE, 20%), growth (15%), dividend yield (15%), valuation (P/BV, 20%), leverage (D/E, 15%) and size (15%). A score is a relative ranking, not a recommendation — read the guide below for what each metric means and its limits.

WhatsApp

Oleh Tim Redaksi Money Clarity · Diperbarui 14 Agustus 2026

English version: This article in English

Screener Saham IDX: Cara Menyaring Saham Indonesia Berdasarkan Angka

Screener di atas memindai pasar saham Indonesia (IDX) dan memberi peringkat sekitar 55 saham likuid berkapitalisasi besar dan menengah berdasarkan fundamental yang paling penting bagi investor jangka panjang: profitabilitas, valuasi, pertumbuhan, leverage, dan dividen. Angka dari laporan tahunan dan harga penutupan terbaru diubah menjadi satu daftar yang bisa dibandingkan, sehingga waktu Anda dipakai untuk membaca laporan tahunan, bukan membuat spreadsheet.

Panduan ini menjelaskan arti setiap metrik, bagaimana skor disusun, dan — sama pentingnya — apa yang tidak bisa dikatakan oleh screener.

Apa yang diukur oleh screener

Setiap saham mendapat skor 0 sampai 100 dari enam komponen:

Metrik Bobot Apa yang diukur
Return on equity (ROE) 20% Seberapa menguntungkan manajemen memakai uang pemegang saham
Valuasi (P/BV) 20% Berapa yang Anda bayar per rupiah nilai buku
Leverage (D/E) 15% Seberapa besar utang perusahaan dibandingkan ekuitas
Pertumbuhan laba 15% Apakah laba tumbuh atau menyusut
Imbal hasil dividen 15% Berapa yang dibayarkan perusahaan kembali ke pemegang saham
Kapitalisasi pasar 15% Ukuran perusahaan dan likuiditasnya

Bobot tersebut adalah pilihan editorial kami, bukan kebenaran objektif. Bobot ini menyukai bisnis yang menguntungkan, bernilai wajar, berutang rendah, dan membayar dividen — titik awal yang masuk akal untuk investasi jangka panjang di saham unggulan Indonesia, tetapi Anda boleh menimbangnya dengan cara berbeda.

Return on equity (ROE)

ROE adalah laba bersih dibagi ekuitas pemegang saham: berapa rupiah laba yang dihasilkan setiap rupiah modal pemilik per tahun. ROE konsisten di atas 15% adalah batas yang wajar untuk bisnis berkualitas. Bank secara alami melaporkan ROE tinggi dengan ekuitas tipis — sebab itulah filter leverage pada screener cenderung mengeluarkan bank (lihat keterbatasan di bawah).

Price-to-book value (P/BV)

P/BV membandingkan harga pasar dengan nilai aset bersih perusahaan per saham. P/BV di bawah 1 berarti Anda bisa membeli bisnis lebih murah dari nilai bukunya; di atas 2–3, pasar sudah memperhitungkan ekspektasi pertumbuhan. Metrik ini paling bermakna untuk bisnis padat aset (bank, properti, tambang) dan kurang berguna untuk bisnis yang asetnya ringan.

Debt-to-equity (D/E)

D/E membandingkan total kewajiban dengan ekuitas pemegang saham — seberapa besar bisnis dibiayai utang dibandingkan modal pemilik. Semakin rendah umumnya semakin aman, tetapi beberapa sektor (bank, utilitas, pengembang properti) memang terstruktur dengan leverage tinggi. D/E di bawah 1 adalah saringan konservatif yang dengan sengaja mengeluarkan sebagian besar perusahaan keuangan.

Pertumbuhan laba

Pertumbuhan membandingkan laba bersih tahunan terakhir dengan tahun sebelumnya. Disajikan dalam persen dan bisa negatif. Pertumbuhan satu tahun saja berisik — tahun yang bagus atau keuntungan sekali waktu bisa menyanjung angka tersebut, jadi perlakukan sebagai satu masukan, bukan vonis.

Imbal hasil dividen

Imbal hasil adalah dividen per saham tahunan dibagi harga saham. Bank dan konglomerat Indonesia sering membayar dividen yang tinggi dan konsisten, karena itu mereka mendominasi kolom dividen di screener. Imbal hasil tinggi juga bisa menandakan harga saham yang turun, jadi dibaca bersama ROE dan D/E.

Cara kerja filter

Keenam kotak filter memetakan ke angka yang sama di atas. Mulailah dari nilai bawaan, lalu persempit:

Kombinasi paling ketat (kapitalisasi pasar ≥ Rp 10 T, ROE ≥ 15%, P/BV ≤ 2, pertumbuhan ≥ 5%, imbal hasil ≥ 3%, D/E ≤ 1) memang sengaja dibuat menuntut — biasanya hanya segelintir saham Indonesia yang lolos keenam filter sekaligus. Itulah gunanya: saringan yang mengembalikan 50 saham adalah katalog, bukan penyaring.

Apa yang tidak bisa dikatakan oleh screener

Menyaring dengan angka punya batas yang tegas:

Cara menggunakannya dengan bijak

  1. Jalankan screener, lalu buka laporan tahunan beberapa nama teratas. Angka di balik layar ini berasal dari laporan tersebut — verifikasi, dan baca diskusi manajemennya.
  2. Bandingkan sektor, bukan hanya skor. Skor teratas di properti bukan risiko yang sama dengan skor teratas di tambang. Kolom sektor menjaga Anda tetap jujur.
  3. Periksa baris rezim pasar. Bilah pasar menunjukkan apakah IHSG diperdagangkan di atas atau di bawah rata-rata 60 harinya dan berapa banyak saham yang naik versus turun dalam 5 hari. Arti saringan berubah di pasar yang jatuh — nama ber-leverage berlebihan yang tampak murah bisa tetap murah.
  4. Jangan pernah membeli hanya karena saringan. Gunakan ini sebagai filter pertama, lalu terapkan analisis valuasi, kualitas, dan risiko yang spesifik untuk bisnis tersebut.

Penelusuran terkait


Screener ini hanya untuk tujuan edukasi umum dan bukan nasihat investasi yang dipersonalisasi. Skor adalah peringkat transparan dari fundamental yang dipublikasikan, bukan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau menahan sekuritas apa pun. Verifikasi data terhadap laporan resmi perusahaan sebelum bertindak.

Oleh Tim Redaksi Money Clarity

Setiap panduan diteliti, ditulis, dan diperiksa ulang oleh tim redaksi Money Clarity: konsep dan rumus diverifikasi terhadap sumber utama, kalkulator diuji dengan contoh perhitungan, dan setiap halaman mencantumkan tanggal pembaruan. Lihat standar editorial kami.